Karya Oposan Cilik

Posted on

Menjawab Tulisan Dr.HM Harry Mulya Zein ( Sekretaris Daerah Kota Tangerang) :  OPOSAN CILIK

Oleh : Abdul Nashir*

Tulisan bapak Dr.HM Harry Mulya Zein (8/10) di salah satu surat kabar lokal di Banten, saya sadari telah memanggil critical thinking saya untuk menyelam jauh ke dasar tulisan beliau. Terlebih, judul ” Berpihak Pada Buruh ” yang ditulis beliau secara disadari atau tidak telah meninggalkan noda-noda skeptis dan labilitas tinggi yang melahirkan kerancuan temporal yang membuat saya “ keracunan ” dan memaksa logika saya untuk mencari penawar demi menawarkan solusi yang lebih ilmiah dan lebih “ Berpihak Pada Buruh ‘.

Mengangkat permasalahan buruh merupakan pilihan cerdas bila dilakoni dengan cermat. Karena tulisan yang menawarkan sajian permasalahan sosial selalu seakan mempunyai magnet tersendiri yang mampu menarik hati  siapa saja yang membacanya. Dan berikut alasan-alasan kenapa saya tidak hanya tertarik untuk membacanya, namun terpanggil untuk mengenakan kacamata saya sebagai seorang oposan cilik :

Pertama, Sebagai pembuka tulisannya, beliau mengajukan sebuah ajakan untuk membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi apabila buruh melakukan aksi mogok massal selama seminggu. Rasanya ajakan itu nyata lahir dari sudut pemikiran yang “ membayang “ dan kurang rasional. Sesuatu yang rasional adalah segala sesuatu yang nyata dan sekalipun dibayangkan sesuatu itu akan muncul sebagai kewajaran dan potensinya  untuk hadir sebagai sebuah realitas sangat tinggi. Sayangnya, ajakan “ membayangkan ” yang ditawarkan oleh pak Harry dalam tulisan tersebut terlalu mendorong kita pada prilaku membayangkan yang sarat imajinasi, bukan membayangkan rasionalitas.

Saya tidak yakin saya bisa memberikan komando pada alam bayang saya untuk membayangkan para buruh yang mau menjalankan aksi mogok massal selama itu. Faktanya, para buruh bekerja membanting tulang demi menghidupi tanggungan mereka yang menanti di rumah masing-masing.

Rasanya para buruh juga akan berpikir berulang kali untuk merealisasikan atau sekedar “membayangkan “  bayangan yang ditawarkan pak Harry.

Kenapa ?

Karena toh mereka tak akan cukup benar-benar tega ( baca : berani ) untuk melawan arus dengan memasang badan di depan petinggi mereka secara frontal. Karena mereka sadar akan teori kekuasaan yang secara sepihak telah menempatkan mereka pada posisi yang serba salah,dan ironisnya secara ekstrem ( baca : terpaksa ) mereka mensahihkan teori itu.

Salah kaprah apabila ada yang berasumsi bahwa teori kekuasaan dapat dilawan oleh teori kemauan.

Kenapa ?

Karena lucunya, teori kekuasaan pun memiliki teori kemauan untuk selalu  mempertahankan taring mereka dan menjaganya agar selalu runcing. Dan saya yakin para buruh kita menyadari dan secara luar biasa memaklumi fenomena sadis itu,walaupun dalam hukum nurani mereka semua itu masih terasa makruh.

Pertanyaannya adalah apakah pak Harry cukup menyadari hal itu ?

Ataukah hanya mencoba untuk “ membayangkan “ nya saja ?

( jawaban hanya milik beliau)

Kedua, Apabila bersuara merdu adalah syarat dari sebuah kompetisi bernyanyi, maka konsistensi adalah syarat dari sebuah tulisan yang ilmiah. Dan itu yang tidak saya jumpai dalam tulisan beliau. Memberikan awalan / pembuka yang kurang tepat merupakan suatu kesalahan strategi yang disuguhkan oleh seorang penulis dalam tulisannya. Menyuapi pembaca dengan  awalan yang rancu akan mengeyangkan pembaca sebelum mereka menghabiskan sajian tersebut. Dramatis harus saya katakan bahwa  itulah penyakit yang diidap oleh tulisan beliau.

Ritual “ membayangkan “ yang terlanjur menjadi kiblat awal tulisan menjadikan tulisan itu tidak konsisten manakala tulisan tersebut tiba-tiba terbangun dari alam bayangnya dan sontak hadir dalam realitas dengan menawarkan solusi yang ternyata merupakan maksud inti dari tulisan  tersebut.

Apakah ada korelasi antara pembuka dengan isi atau inti dari tulisan tersebut? Tentu ada. Tapi dalam kacamata saya korelasi itu terkesan dipaksakan. Walaupun ada korelasi antara peran buruh dengan kebijakan  pembangunan yang berpihak pada buruh, namun korelasi itu terasa terlalu berjarak. Atau sebenarnya beliau hanya membutuhkan penyambung yang absolut demi mengakrabkan korelasi itu.

Ketiga, Alamat yang bercabang dapat saya jumpai dalam tulisan beliau. Basis dan kejelasan tentang kepada siapa sebenarnya tulisan itu ditujukan terkesan kabur. Sekali lagi kurang jelas fokus dari tulisan ini sehingga pembacanya akan dilelahkan oleh keabu-abuan formalitas.

Keempat, Menampilkan contoh-contoh dampak buruk tanpa dibarengi dengan stimulus yang bersifat positif, hanya akan menjadikan tulisan itu berkesan horor dan berorientasi pada agitasi. Dan atmosfer itulah yang saya rasakan ketika membaca tulisan beliau. Rentetan kronologi yang beliau tuturkan di awal memberikan seonggok pemahaman yang begitu kompleksnya. Padahal, menjelaskan tentang kelebihan-kelebihan dan kontribusi yang akan para buruh hasilkan apabila para buruh itu terperhatikan dengan baik  akan lebih terasa bijak dan akan lebih memunculkan sensasi tarikan positif dibandingkan hanya menjual momok yang justru terkadang dipandang tak bertuah.

Kebutuhan masyarakat dan para akademisi akan informasi yang koheren, valid, dan ilmiah rasanya cukup menjadi acuan untuk menyajikan tulisan yang kredibel dan bertanggung jawab. Tentunya yang haram dilupakan adalah tujuan dari tulisan itu harus tersampaikan, baik secara tersurat maupun tersirat dan harus  tepat sasaran.

Sehingga, akan lebih bijak apabila beliau menampilkan fakta-fakta konkret yang sebenarnya terjadi, dibandingkan hanya membayangkan sesuatu yang justru mencederai esensi dari niatan mulia beliau.

SELESAI

*Diterbitkan di Kabar Banten edisi 10 November 2012

*Penulis : Mahasiswa Semester 1 / Kelas Politik Jurusan Ilmu Komunikasi UNTIRTA/Laskar Muda FoSMaI 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *