Kuliah Reboan FISIP Perdana Hadirkan Sejarawan Jepang dan JJ Rizal

Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menggelar Kuliah Reboan FISIP perdana bertajuk ‘Kemerdekaan Bukan Hadiah Jepang’. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni sejarawan Jepang Aiko Kurasawa, dan sejarawan Indonesia JJ Rizal. Kegiatan kuliah reboan FISIP seri satu ini berlangsung pada 28 Februari lalu di Ruang Serba Guna FISIP Untirta.

Dalam kesempatannya, Dekan Fisip Untirta Leo Agustino menyampaikan pentingnya memahami tiga kebenaran yang hadir dalam sejarah, yakni kebenaran absolut, akademis, dan penguasa. Ia berharap hadirnya dua narasumber berpengalaman dapat memberikan wawasan baru tentang hubungan sejarah kedua negara.

“Keberadaan ketiga kebenaran tersebut seringkali menjadi poin konflik, dan Fisip Untirta berkomitmen untuk menelusuri dan menggali lebih dalam kajian pengetahuan dan interaksi sosial di tingkat lokal, nasional, dan internasional,” ujarnya

Pada kesempatan ini, Aiko membagikan pengetahuannya tentang propaganda, kolaborasi, dan perlawanan antara Jepang dan Indonesia selama periode pendudukan. Ia mengatakan pentingnya pemahaman soal kemerdekaan Indonesia yang bukan merupakan ‘hadiah’ dari Jepang, tetapi hasil dari perjuangan dan dinamika yang kompleks. Melalui catatan penelitiannya, Aiko menyampaikan realitas sejarah yang tidak selalu sesuai dengan narasi yang dipresentasikan. Ia juga menjelaskan tentang Soekarno dan Hatta yang memanfaatkan kekuasaan Jepang untuk menggerakkan nasionalisme Indonesia.

Dengan menyelidiki arsip-arsip rahasia Jepang, Aiko menjelaskan kemerdekaan Indonesia adalah hasil dari perjuangan dan kerja keras bangsa Indonesia, bukan hadiah dari Jepang. Jepang tidak ada sedikitpun keinginan untuk melepas Indonesia sampai kapan pun. Di sisi lain, JJ Rizal membahas soal fase awal kedatangan Jepang di Indonesia dan harapan masyarakat Indonesia, yang kemudian berubah menjadi kekecewaan dan penderitaan bagi rakyat. Menurutnya, perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya dipenuhi dengan pujian, tetapi juga dengan krisis pangan dan eksploitasi manusia.

“Sejarah tidaklah hitam-putih. Meskipun Jepang membawa harapan akan pembebasan dari penjajahan Belanda, realitanya jauh dari itu. Kerja paksa dan penderitaan rakyat menjadi kenyataan yang tidak dapat dihindari,” paparnya.

Hadirnya Kuliah Umum Reboan ini pun mendapat sambutan positif dari mahasiswa dan masyarakat umum di Serang. Selain sejarah kemerdekaan, kuliah umum ini juga membahas tentang peran Banten dalam sejarah perjuangan kemerdekaan. Sebagai sebuah provinsi dengan catatan sejarah yang kaya, Banten berperan penting dalam panggung nasional Indonesia. Oleh sebab itu, hadirnya kuliah umum ini menjadi langkah penting dalam memahami identitas dan arah masa depan Banten dan Indonesia secara keseluruhan. Kuliah umum ini juga menjadi sebuah wadah berharga untuk menyelami dan menghargai sejarah, serta memperkuat semangat perjuangan dan kemerdekaan bagi Banten dan Indonesia.

Ketua Prodi Magister Ilmu Komunikasi Fisip, Ail Muldi pun menyampaikan pihaknya akan menggelar kuliah umum dengan tema lain setiap bulannya. “Selanjutnya akan ada seri lanjutan kuliah umum dengan tema yang jauh lebih menarik dan penting dari narasumber nasional dan internasional di setiap bulannya,” pungkasnya.(detk)

 

Scroll to Top